TEGAS! Tak Pakai Masker di Luar Rumah, Pria di Filipina Ditembak Mati Polisi..

Seorang pria asal Filipina ditembak mati saat akan menjalankan pemeriksaan kesehatan di pos pemeriksaan virus corona.

Pria berusia 63 tahun itu ditembak setelah ia mengancam para pejabat desa dan polisi dengan menggunakan sabit.


1. Kronologi Insiden Penembakan

Pria yang tidak diketahui identitasnya ini diyakini dalam kondisi mabuk ketika ia mengancam pejabat desa dan polisi yang menjaga pos pemeriksaan di Kota Nasipit, Selatan Provinsi Agusan del Norte, Filipina.

Awal mula dari kejadian nahas ini adalah pria tersebut diperingatkan oleh petugas kesehatan karena tidak memakai masker.

“Tersangka itu diperingatkan oleh petugas kesehatan desa karena tidak mengenakan masker,” sebagaimana dikutip oleh laman The Star.

Pria itu kemudian kesal dan akhirnya mengancam para petugas menggunakan sabit.

“Tapi tersangka marah dan mengucapkan kata-kata memprovokasi dan akhirnya menyerang personel menggunakan sabit,” tambahnya.

Tak lama, pria tersebut langsung ditembak oleh polisi dan meninggal di tempat.

2. Perintah Presiden Rodrigo Duterte

Adapun insiden di Filipina ini merupakan kasus pertama anggota kepolisian menembak warga sipil karena menolak mengikuti pembatasan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sebelumnya, Presiden Rodrigo Duterte sudah memperingatkan bahwa ia akan meminta polisi dan militer untuk menembak siapa saja yang membuat masalah pada masa lockdown di Filipina.

“Biarkan ini menjadi peringatan bagi semua. Ikuti pemerintah saat ini karena sangat penting bahwa kita memiliki perintah,” ujar Presiden Rodrigo Duterte dalam sebuah pidato Nasional, dikutip dari Aljazeera.

“Dan jangan membahayakan pekerja kesehatan, para dokter karena itu adalah kejahatan serius. Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada yang membuat masalah dan hidup mereka dalam bahaya, tembak mereka mati,” sambung Presiden Rodrigo Duterte.

“Jangan mengintimidasi pemerintah! Jangan menantang pemerintah! Anda akan kalah”.

3. Protes Warga Miskin Filipina

Peringatan Presiden Rodrigo Duterte ini menyusul protes penduduk di daerah kumuh di Kota Quezon Manila.

Mereka mengklaim belum mendapattkan paket makanan dan bantuan lainnya dari pemerintah sejak lockdown diberlakukan dua minggu lalu.

Petugas keamanan desa dan kepolisian pun mendesak warga yang protes untuk kembali ke rumah masing-masing. Mereka menolak hingga akhirnya polisi membubarkan paksa dan menangkap 20 orang massa aksi.

Jocy Lopez, pemimpin aksi protes, mengatakan bahwa mereka melakukan aksi ini karena tidak lagi mempunyai stok makanan sejak lockdown di Filipina.

“Kami di sini untuk meminta bantuan karena kelaparan. Kami belum diberi makanan, beras, bahan makanan, atau uang tunai. Kami tidak punya pekerjaan. Kepada siapa kami berpaling?” ujar Jocy.

Pulau utama Filipina, Luzon, sudah ditutup sejak 16 Maret 2020. Otoritas yang berwenang pun melarang masyarakat Filipina meninggalkan rumah kecuali untuk keperluan berbelanja bahan pokok atau obat-obatan.

Selain itu, banyak pula wilayah di luar Luzon yang melakukan pembatasan guna mencegah penyebaran virus corona.

Departemen Kesehatan Filipina pun melaporkan 76 kasus infeksi baru yang telah dikonfirmasi sehingga jumlah angka kasus positif menjadi 3.094.

Sumber: keepo.me